20 January 2012

Mari Mengenal Lebih Jauh Anak Perfeksionis

Sewa Ruang Kantor Jakarta Murah
UNIK SEMBARANGAN
RUMAH DIJUAL DI KARANGPUCUNG PURWOKERTO
SOURCE CODE VISUAL BASIC, VB.NET, dan PHP MURAH MERIAH
DVD Master PES (Pro Evolution Soccer) 2010-2011-2012, FM (Football Manager) 2010-2012, dan FIFA 2012




Mengenal Lebih Dekat Anak Perfeksionis



Perfeksionis ditunjukkan dengan keinginan anak untuk meraih nilai sesempurna mungkin dalam setiap hal.


++++++++++++++++++++++++++++

Wajar bila setiap orang tua ingin anaknya mandiri dan terbaik dalam segala hal. Namun, perlu juga diwaspadai bila ternyata anak terus-menerus menuntut dirinya untuk melakukan segala sesuatunya dengan prima, sangat detail, dan tanpa kesalahan atau kekurangan sedikit pun. Untuk itu, kenali tanda-tandanya lebih dulu sebelum menyelami untung ruginya lebih jauh.



TANDA-TANDA PERFEKSIONIS


PERFEKSIONIS, menurut Dra. Tisna Chandra, Psi ., direktur Lembaga Konsultasi Psikologi Keluarga Parents Partner, Bintaro, adalah perilaku di mana seseorang selalu ingin menjadi sempurna dalam berbagai hal. Inilah tanda-tandanya.

1. Serbabersih dan rapi

Pada anak misalnya, ketika sedang menggambar dia tidak mau bukunya tercoret sedikit pun, ketika mewarnai dia tidak mau pewarnaannya melewati garis atau tidak mau tersobek sedikit pun, atau ketika ingin memakai baju dia tidak mau pakaiannya bernoda sedikit pun.


2. Serbasepadan

Dalam penampilan pun, anak perfeksionis ingin terlihat sempurna. Misalnya warna antara baju, celana, dan sepatu harus sesuai. Bila bajunya berwarna dominan kuning, maka celana dan sepatunya pun harus ada unsur kuningnya. Bila warnanya berbeda sama sekali, anak perfeksionis umumnya tidak akan mau memakainya. Aksesori dan tatanan rambutnya pun harus rapi, serasi, serta terpenuhi semuanya.



3. Kegagalan kecil dianggap fatal

Ketika orang tua tidak mewujudkan keinginannya, berbagai perilaku negatif bakal timbul. Misalnya, ketika tidak puas dengan gambar dan mewarnai, anak akan menyobek kertas, membuang bukunya atau malah menangis karena menganggap bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal. Bila pun kita memaksanya dengan berbagai alasan, timbul rasa tidak nyaman dan cemas yang berujung pada tidak optimalnya kretivitas anak.

Namun, dikatakan Tisna, sikap perfeksionis hanya terjadi pada beberapa kasus dan tidak umum dimiliki anak balita. Kalau ia hanya cerewet saat memilih atau memakai baju, memilih media gambar, bersikap terlalu disiplin, tapi di lain waktu tidak bersikap demikian, maka belum tentu hal itu merupakan wujud sikap perfeksionis. Bisa saja ia hanya berkeinginan tampil lebih baik dalam sesaat. Sebaliknya, jika ia seorang perfeksionis sejati, keinginan untuk jadi lebih sempurna akan terus berlanjut.

++++++++++++++++++++++++++++


ASAL-USUL PERFEKSIONIS


1. Meniru orang tua yang perfeksionis

Menurut Tisna, banyak hal yang bisa membentuk anak menjadi perfeksionis. Yang paling utama, orang tua perfeksionis akan menciptakan anak perfeksionis pula. Prosesnya berhubungan erat dengan perilaku anak yang paling menonjol saat balita, yakni kekuatan peniruan. Anak akan meniru dari lingkungannya, terutama lingkungan terdekat, seperti orang tua dan keluarga.


2. Dituntut selalu berdisiplin tinggi

Selain itu, sejak anaknya masih bayi, orang tua perfeksionis biasanya menerapkan berbagai aturan yang kaku dan harus selalu dipenuhi. Hal inilah yang menurut Tisna juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap anak yang perfeksionis. Contohnya penerapan kedisiplinan, pukul 6 pagi anak harus sudah bangun, pukul 7 makan pagi, pukul 9 tidur, pukul 12 makan siang, dan seterusnya. "Waktu yang terjadwal dan tidak boleh mulur sedikit pun akan memperkuat anak untuk berperilaku yang memupuknya menjadi perfeksionis."

Bila orang tua meminta anak untuk mematuhi segala peraturan dan tidak boleh sedikit pun melanggarnya, maka wujud perfeksionis akan muncul dengan sendirinya. Belum lagi dengan hal lain, misalnya harus selalu menjaga kebersihan kamar, harus bisa melakukan sesuatu sendiri sejak kecil, harus makan dengan posisi yang terbaik, dan segala macam peraturan lain yang harus dilakukan anak.

3. Dituntut tanggung jawab di luar kemampuan usia

Asal tahu saja, anak yang terlalu dituntut bertanggung jawab terhadap hal-hal di luar kemampuan usianya, secara tidak langsung juga dibentuk berperilaku perfeksionis. Misalnya, anak usia 3 tahun harus bisa menjaga dan melindungi adiknya yang masih bayi, harus bisa membeli telur di warung, harus bisa membereskan tempat tidur sendiri, dan sebagainya. Lambat laun, karena terbiasa dengan berbagai tanggung jawab, sikap perfeksionis itu akan semakin terpupuk.

4. Selalu menerima kritik

Demikian pula dengan orang tua yang terlalu banyak mengkritik. Anak akan berusaha tampil atau menghasilkan sesuatu sesempurna mungkin demi menghindari kritikan dan memenuhi kemauan orang tuanya. Contoh kecil, ketika anak tidak mampu mengikat tali sepatunya, orang tua mengkritik, "Masak begitu saja tidak bisa!"

Bila anak melakukan kesalahan, kemudian berbagai teguran diterimanya, ia akan ketakutan dan berusaha melakukan tugasnya dengan benar. Dengan kata lain, ia tidak akan berhenti mengerjakan atau meminta sesuatu sampai dia merasa terpuaskan.



sumber: http://www.tabloidnova.com/Nova/Kelu...k-Perfeksionis





Anak Perfeksionis VS Anak Pengalah

Seorang Mommy curhat di Milis. Anak Mommy yang berumur enam tahun dan sekarang kelas 1 SD sepertinya perfeksionis. Menurut mommy, ia cukup menguasai pelajaran terutama Matematika & Sains, tetapi begitu pelajaran tak disukai dan belum dikuasai, ia akan kesal sendiri.

Bila sedang bermain bola, atau bermain monopoli bersama adiknya, maunya menang sendiri.. Bila sudah ada tanda-tanda akan kalah, mulailah menunjukkan kekesalannya dan mengambek. Akhirnya ia lebih suka main monopoli sendiri, supaya bisa menguasai semua uang monopoli.

Mommy menyadari, hal ini timbul karena pada awalnya mommy selalu menomor satukan anak mommy karena mempunyai adik hanya berjarak setahun, agar tak merasa dikesampingkan. Akhirnya malah anak nomor dua yang menjadi selalu mengalah. Masalahnya bagi mommy, sekarang anak nomor satu jadi selalu mau menang sendiri dan selalu ingin dinomor satukan selalu. Bila tidak kesampaian akan mangajuk dan menimbulkan masalah.

Mommy menanyakan sharing pengalaman dan pendapat dari Mommies lain yang mempunyai pengalaman serupa dalam menangani masalah ini. Muncul tanggapan dari Mommy yang mempunyai anak berusia tujuh tahun. Mommy menyatakan bahwa yang dialami persis sama seperti mommy yang menanyakan. Kebetulan anak mommy juga mempunyai kecenderungan hiperaktif menurut hasil test psikiater. Anak mommy juga tidak mau mengalah saat bermain, tidak dapat menerima kekalahan dirinya saat kemenangan orang lain.

Bila saat bermain ada tanda-tanda akan kalah langsung minta berhenti, atau menangis. Anak merasa harus memenangkan semua permainan. Hingga saat mendapat pembagian kuepun minta di nomor satukan, anak lain tidak boleh sama dengan yang diperolehnya. Mommy cukup kelabakan juga dalam menangani anak ini. Sama dengan mommy yang menanyakan, mommy ini mempunyai anak lagi dan kembar, hanya berjarak satu tahun dari kelahiran anak sebelumnya. Mommy berfikir mungkinkah ini terjadi karena anak merasa kurang diperhatikan?

Padahal mommy merasa telah berusaha untuk cukup dan adil dalam memberikan perhatian kepada ketiga anaknya. Sehingga menurutnya salah satu cara orang tua tetap harus konsekuen , meskipun anak menangis karena kalah, tetap ia harus menjalaninya. Bila tidak, kasihan adik-adiknya yang sudah sangat pengertian dan amat mengalah. Mommy yang lain yang persis mengalami hal yang serupa, menyadari mungkinkah karena tenggang jarak kelahiran yang sangat dekat, sehingga anak merasakan haus kasih sayang dan perhatian sejak usia sangat dini.

Mommy ini berusaha menerapkan cara dengan memberi peringatan pada anak-anak di setiap awal bahwa kalah dan menang adalah wajar dalam suatu permainan. Agar anakanak tidak merasakan sebuah permainan sebagai suatu kompetisi melainkan sebagai suatu hal yang menyenangkan. Mommy yang menanyakan menyadari bahwa kemungkinan anaknya memang merasakan kompetisi dengan adanya adiknya yang tak beda jauh umurnya dengannya. Fisik sang adik yang sudah lebih besar dari dirinya, bisa jadi dirasakannya sebagai suatu ancaman dan kompetisi dari sang adik, sehingga sang kakak menanggapi secara tak sadar bahwa dirinya harus menang dalam segala hal lain di luar hal tersebut.

Dari diskusi ini ada beberapa point menarik yang bisa diambil:

1. Pada hubungan antara saudara sekandung dengan jarak kelahiran yang sangat dekat, ada kemungkinan timbullnya perasaan kompetisi pada salah satu saudara, yang berakibat pada keinginan untuk lebih dinomorsatukan dan diperhatikan oleh orang tua.

2. Perlu kesadaran orang tua, bahwa tingkah laku salah satu anak yang ingin menang sendiri kemungkinan timbul karena perasaan sensitif anak yang merasa terancam dengan kehadiran saudaranya yang berbeda umur sedikit sekali dengannya.

3. Jangan menomorsatukan siapapun, dan berusahalah bersikap adil dan fair kepada semua anak.

4. Membiasakan mengenalkan anak kepada sifat sportif di dalam permainan apapun.

5. Mengenalkan makna menang dan kalah di dalam permainan secara tak berlebihan.

6. Pada anak yang sudah terlanjur mau menang sendiri atau terlalu pengalah, orang tualah yang seyogyanya merubah pola yang berlaku sekarang. Intervensi diperlukan dengan mengubah pola pikir orang tua untuk benar-benar menyamaratakan anak-anak, apapun kondisi fisik dan mental mereka. Kemudian diperlukan komunikasi dan ketegasan orang tua di dalam menghadapi anak yang terlanjur mau mennag sendiri. Mulailah dengan bermain bersama mereka dalam permainan yang tak berkompetisi dan semua akan mendapatkan giliran. Beri kesempatan untuk memimpin kepada anak yang pengalah, dan beri lebih banyak giliran untuk menjadi anak buah kepada anak yang mau menang sendiri.

7. Orang tua dapat menggali kreatifitas dalam menangani kedua tipe anak tersebut secara bersamaan, dengan mencoba menekan rasa self-sentris anak perfeksionis dan menimbulkan rasa keberanian dan egosentris anak yang terlalu pengalah. Usahakan perubahan dilakukan secara bertahap dan tanpa disadari oleh anak-anak, hingga akhirnya bila anak pengalah menang atau memimpin akan dianggap sebagai suatu kewajaran oleh anak perfeksionis.

sumber: http://wrm-indonesia.org/content/view/1115/58/

No comments: